Memaksimalkan Ibadah Di 10 Malam Terakhir Ramadhan Saat Wabah Melanda

Memaksimalkan Ibadah Di 10 Malam Terakhir Ramadhan Saat Wabah Melanda


Alhamdulillah was shalawatu was salamu ála Rasulillah SAW sampai detik ini Allah masih memberikan kita kesempatan untuk terus membangun keistiqomahan di bulan Ramdhan. Walaupun, saat ini umat Islam di seluruh dunia merasakan keadaan yang tidak biasa karena pandemi virus corona (Covid-19). Seluruh kegiatan dan aktivitas manusia—termasuk yang bersifat keagamaan—dibatasi akibat virus corona.


Umat Islam tidak bisa lagi menjalankan shalat berjamaah dan shalat Tarawih di masjid selama Ramadhan karena pandemi corona. Atas hal itu, tentunya kita merasa bersedih. Akan tetapi, kita menyadari semua ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi kehidupan dan kesehatan kita dalam memerangi pandemi virus corona.


Pada bulan Ramadhan terlebih ketika menjelang memasuki 10 malam terakhir, umat Islam biasanya berkumpul dalam jumlah besar di masjid-masjid untuk melakukan ibadah i’tikaf. Namun karena pandemi corona, hampir semua negara berpenduduk mayoritas Muslim menutup masjid dan meminta warganya untuk beribadah di rumah.


Momentum 10 malam terakhir di bulan ramadhan menjadi begitu berharga bagi seorang mukmin, karena diantara malam-malam tersebut akan hadir satu malam yang keistimewaanya melebihi 1000 bulan, yaitu malam lailatul qadr. Maka setiap mukmin berupaya untuk berburu malam lailatul qadr ini dengan melaksanakan berbagai ibadah, diantaranya ialah; Itikaf, memaca Al-Quran, memperbanyak mendirikan shalat-shalat sunnah dll.


Saudaraku, tak terasa sebentar lagi kita akan memasuki penghujung bulan Ramadhan. Oleh karenanya, kami sajikan sedikit pembahasan mengenai “Memaksimalkan Ibadah di 10 Malam Terakhir Ramadhan saat Wabah melanda”. Harapannya, tulisan ini dapat memotivasi saya pribadi dan saudara-saudaraku semua untuk bersemangat dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita, karena sesungguhnya amal itu tergantung dengan penutupnya.


Berikut diantara Urgensi dari tema ini :


1. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk beribadah


Kemulian Ramadhan tidak akan pernah berkurang dengan apapun termasuk wabah covid 19 ini, maka dari itu marilah kita menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum terbaik memperbanyak ibadah baik secara kuantitas maupun kualitas.


Allah SWT berfirman;

...فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: ”maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS Al-Maidah; 48)



Rasulullah SAW bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ، فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ، مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ، مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

Bahwasanya RasulullahSAW orang yang paling dermawan, dan Beliau lebih dermawan dibulan ramadhan, ketika sering didatangi malaikat Jibril AS, yang menemui Beliau SAW setiap malamnya dibulan ramadhan, dan mempelajari dan mengulangulang Al-Quran, dan sungguh RasulullahSAW orang yang paling dermawan atas segala kebaikan dengan selalu mengalir kedermawanannya melebihi angin yang berhembus dengan mudah” (HR. Bukhari)


1. Rasulullah memuliakan Ramadhan

Kita ketahui bersama, bahwa Rasulullah adalah Manusia terbaik yang wajib kita jadikan teladan dalam hidup ini. Beliau adalah sosok yang paling gemar beribadah dan terlebih ketika sudah memasuki bulan Ramadhan.

2. Bisa jadi Ramadhan kali ini adalah terakhir bagi kita

Tidaklah seorangpun yang seharusnya merasa aman dari kematian, maka setiap saat seorang mukmin harus mendesign kehidupannya untuk mendapatkan husnul khatimah/akhir yang baik. Maka, marilah kita jadikan Ramadhan ini seakan-akan momentum terakhir, agar kita mampu memuliakan dan memaksimalkannya.

Selanjutnya, ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar kita mampu memaksimalkan ibadah di 10 Malam terakhir Ramadhan saat Wabah melanda :

1. Mengetahui ruang lingkup Ibadah

Pengetahuan akan ruang lingkup Ibadah pastinya akan menambah seseorang lebih baik dalam melaksanakan ibadah tersebut, artinya kuantitas ibadahnya akan diiringi dengan kualitasnya.

10 malam terakhir di bulan ramadhan adalah kesempatan emas bagi seorang mukmin. Maka hendaknya ia memperbanyak ibadah-ibadahnya, walau semuanya itu harus dikerjakan di rumah bersama keluarganya.


2. Kurangi yang mubah dan maksimalkan yang wajib dan sunnah

Ramadhan adalah bulan yang begitu mulia, makasudah selayaknyalah kita harus mampu mengurangi yang mubah demi menyibukkan diri kita untuk mengerjakan yang sunnah dan wajib. Sebagai contoh; menonton televisi adalah hal yang mubah, mengobrol adalah hal yang mubah, ngabuburit menjelang berbuka adalah hal yang mubah. Akan tetapi, dalam kondisi wabah seperti ini tentunya kita harus lebih mampu meminimalisir hal-hal itu demi kselamatan diri dan memaksimalkan ibadah kita.


3. Mencontoh orang-orang pilihan Allah dalam beribadah

Begitu banyak kisah – kisah dari sosok terbaik, baik dalam Al-Qurán, hadits, ataupun kisah para Tabiín yang totalitas dalam ibadahnya. Diantaranya, kisah Abu Bakar Ash-shiddiq ra, sosok yang telah setia mendampingi Rasulullah SAW saat berhijrah walau nyawa menjadi taruhannya. Kemudian diantara kisahnya juga kita ingat, bagaimana Beliau adalah orang yang terdepan dalam keimanan dan kebaikan.


4. Tidak meremehkan Ibadah-Ibadah yang kecil

Sudah selayaknyalah kita tidak meremehkan ibadah-ibadah kecil terlebih di bulan Ramadhan ini, karena bisa jadi itulah yang akan menjadikan kita mendapatkan ridho Allah SWT.


5. Membangun budaya malu

Seorang mukmin adalah seorang yang pemalu, malu jika dirinya tidak mampu menunaikan apa yang telah diperintahkan Allah SWT dan meninggalkan apa yang telah dilarang oleh_Nya. Karena ia menyadari bahwa, malu adalah bagian dari keimanan itu sendiri.


6. Berdoa agar ditsabatkan dalam kebaikan

Setelah ihtiar dilakukan untuk memaksimalkan ibadah kita, maka tentunya yang terakhir dalam pembahasan ini adalah berdoa kepada Allah SWT semoga kita ditsabatkan untuk mampu memaksimalkan ibadah di 10 malam terakhir ini.

 

Saudaraku,… 10 malam terakhir adalah ibarat babak final dalam sebuah pertandingan. Maka,seharusnya lebih seru dibandingkan babak-babak sebelumnya. Peran kita harus lebih maksimal dibandingkan sebelumnya. Mari bersungguh-sungguh mempersiapkannya! Semoga Allah SWT takdirkan bertemu dengan malam lailatul qadar. Aaamiin

عن عائشةَ رضِيَ اللهُ عنها أنَّ رسولَ الله صلَّى الله عليه وسلَّمَ قال: ((تَحرُّوا لَيلةَ القَدْرِ في الوَتْر من العَشرِ الأواخِرِ من رمضانَ))  رواه البخاريُّ

Artinya : “Carilah lailatul qadar di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Semoga ada manfaatnya.

Wassalamuálaikum.


Akhukum fillah,


Penulis  :

Ust. Mahbub Junaidy, M.Kom.I





Ayo share artikel ini melalui sosial media kamu dengan klik salah satu tombol di sebelah kanan layar. Terimakasih & Semangat Berwakaf Amazing People!

Komentar

Silakan Masukan Komentar ...

Artikel Terkait


Pembangunan Pesantren Tahfizh ABAS Terus Berlanjut

Realisasi Wakaf Pesantren Tahfizh Qur'an ABAS

Bantuan Logistik Hadir Untuk Pengungsi Penyintas Banjir Bekasi

Indonesia Siaga Bencana

Wakaf Sebagai New Life Style

Seputar Wakaf
Donasi