Hidup Ini Amanah

Hidup Ini Amanah


We have but nothing, sepertinya kita punya, tetapi sebenarnya tidak punya apa-apa.

 

Subhanallah, hanya Allah Maha Pemilik tunggal alam semesta, Maalikul mulki, Pemilik dari semua pemilik. We have but nothing, sepertinya kita punya, tetapi sebenarnya tidak punya apa-apa.


Ya, benar. Kita punya istri, kita punya suami. Di rumah, kita juga mempunyai anak-anak. Ada ayah, ibu, ada pembantu dan adik serta kakak. Kita pun punya rumah, punya kendaraan, punya properti, dan berbagai hal lainnya yang bersifat materi. Tapi sungguh, atas semua itu pemilik sebenarnya bukan kita. Sejatinya, ada yang memiliki dan pemiliknya teramat berkuasa dan sangat memberhaki untuk mengambil atau menghilangkannya sama sekali. Dialah Allah ’Azza wa Jalla.


Karena itulah Islam tidak mengajarkan rasa memiliki secara mutlak, tetapi rasa diamanahi. Merasa bahwa semua yang dipunya adalah amanah untuknya. Diamanahi anak-anak yang cantik – ganteng shaleh-hah, diamanahi ilmu yang mumpuni, harta yang banyak, jabatan tinggi, popularitas yang menjulang, keluarga besar, dan semua hal.


Karena merasa sedang diamanahi, sudah seharusnya dijaga, dirawat, dan diperlakukan sebagaimana kehendak yang member amanah, yaitu Allah SWT. Bukankah amanah itu sifatnya sementara? Ia akan diminta lagi oleh pemilik sahnya. Bahkan, akan dimintai pertanggung jawabannya.


Ingat sahabat yang budiman, amanah itu berat. Saking beratnya, ketika amanah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, semua angkat tangan. Mereka tidak mau dan merasa tidak mampu. "Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amatbodoh," (QS al-Ahzab: 72).


Banyak yang karena tidak amanah, hamba-hamba Nya yang zalim dan bodoh itu akhirnya terjatuh pada kehinaan dan kehancuran. Baik disini, di dunia ini maupun nanti di sana, di akhirat. Firaun tidak amanah, dihinakan dengan ditenggelamkan di dasar laut dan jasadnya dipertontonkan hingga sekarang. Qarun yang tidak amanah dengan kekayaannya, harus hina dina dengan dibenamkan dan dikubur oleh bumi. Sekali lagi amanah itu berat. Saat nanti di akhirat, di hadapan Pemilik-Nya, kita semua akan disidang, ditanya banyak hal tentang semua amanah yang diberikan kepada kita.


Inaa lillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun, sungguh kita semua, termasuk amanah, dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kesadaran inilah yang membuat kita menjaga dan ingin menggunakan amanah ini selalu di jalan Allah. Jika ini yang ada dalam kesadaran kita, lahir akhlak mulia, zuhud, dunianya untuk akhiratnya, wara’, sangat berhati-hati dan taat pada hukum Allah. Kemauannya hanya yang halal, tidak mau maksiat, apalagi sampai berdosa lagi. Kesenangannya membantu sesama, ar-ra’fu, sifat belas kasih, dermawan, sangat rendah hati, dan kesibukannya asyik memperbaiki dirinya. Wallahu A’lam.

 

(Sumber : disarikan dari ceramah Alm Ust.Muhammad Arifin Ilham)


Penulis  :

Hermansyah

(Direktur Bimbingan Belajar Al Quran Haniyyah Jatiasih - Bekasi)

 





Ayo share artikel ini melalui sosial media kamu dengan klik salah satu tombol di sebelah kanan layar. Terimakasih & Semangat Berwakaf Amazing People!

Komentar

Silakan Masukan Komentar ...

Artikel Terkait


Perbedaan Wakaf, Zakat, Sedekah & Hibah

Seputar Wakaf

Wakaf Kebun Bairuha Harta Tercinta Abu Thalhah

Inspiratif

Keberkahan Wakaf

Seputar Wakaf
Donasi