FENOMENA WAKAF DI INDONESIA "Tantangan Menuju Wakaf Produktif"

FENOMENA WAKAF DI INDONESIA "Tantangan Menuju Wakaf Produktif"


Perkembangan wakaf di Indonesia dalam dekade terakhir kian hari semakin meningkat baik dari sisi kuantitas dan keragamannya. Misalnya terus bertambahnya jumlah dan objek wakaf, baik berupa tanah, uang dan yang lainnya, semakin banyaknya lembaga-lembaga baru yang mengelola wakaf, adanya sosialisasi dan forum untuk pengembangan wakaf, serta adanya tipe wakaf baru, seperti wakaf asuransi.

Ghirah peningkatan praktik wakaf ini juga terjadi dalam kajian terkait wakaf, baik yang menjadi tulisan untuk kelulusan pendidikan formal (skripsi, tesis, disertasi), maupun riset dan tulisan lepas lainnya. Dan jumlah ini pun meningkat setiap hari menjadi aset yang luar biasa besar dan sangat potensial untuk bisa dikembangkan. Bahkan jika wakaf dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik maka wakaf bisa menjadi pilar baru dalam pembangunan ekonomi masyarakat.

Namun sayangnya, realita dilapangan menunjukkan bahwa kebanyakan data wakaf yang seharusnya bisa menjadi potensi ekonomi luar biasa hanyalah potensi diatas kertas, yang lama kelamaan bisa “mati” bila tidak dikelola dan dikembangkan dengan baik. Di DKI Jakarta saja misalnya, hampir semua wakaf tanah yang ada hanya diproyeksikan untuk kepentingan tempat ibadah (masjid dan mushalla), tidak dikombinasikan dengan fungsi lain semisal pendidikan atau bahkan pengembangan ekonomi umat. Gambaran seperti di DKI ini adalah fenomena umum yang bisa ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, bahwa mayoritas aset wakaf diperuntukkan untuk ibadah ritual semata. Memang tidak salah dengan peruntukkan ini, hanya sayang fungsi tanah wakafnya jadi tidak bisa dikembangkan untuk tujuan sosial, pendidikan atau ekonomi produktif bagi masyarakat.   

Ada beberapa alasan kenapa jumlah tanah wakaf yang bisa digunakan untuk kegiatan produktif masih sangat sedikit :

1.         Masih cukup banyak para nadzir yang mengelola wakaf dengan cara konvensional, bila tidak ingin disebut tradisional. Wakaf masih dipahami sebagai aktivitas yang sangat sederhana yakni aktivitas menyerahkan sebagian harta benda guna dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu untuk dimanfaatkan sebagai keperluan ibadah yang notabenenya tidak boleh dibisniskan.

2.      Masih banyak para wakif yang mewakafkan hartanya memang diperuntukkan untuk pembangunan tempat ibadah. Hal ini menjadi semakin krusial karena kebanyakan wakif meminta anggota keluarganya yang masih hidup untuk mewakafkan hartanya sesudah mereka meninggal, dan ini menjadi semacam wasiat bagi keluarganya yang mau tidak mau harus dijalankan.

3.     Masih banyak anggapan dimasyarakat bahwa menyalurkan harta wakaf guna dijadikan pemberdayaan ekonomi berpotensi besar dalam menyulut konflik.  Masyarakat tak mau repot dan punya rasa khawatir terkena imbas konflik dari harta wakafnya jadi langsung diperuntukkan untuk masjid atau mushalla. Padahal contoh-contoh awal wakaf pada masa Nabi yang tersebar adalah wakaf perkebunan. 

Dari pemahaman konsep-konsep berwakaf yang demikian, sudah dapat dipastikan bahwa potensi wakaf tidak akan bisa dikembangkan seluas-luasnya. Paradigma keliru yang masih terpelihara diatas sudah seharusnya diubah bila ingin melhat wakaf bisa berkembang pesat. Sungguh miris apabila potensi yang luar biasa besar tersebut hanya akan menjadi aet “mati suri” karena salah urus sejak awal. 

"Mengembangkan Potensi Wakaf, Membangun Masyarakat."

Satu imajinasi yang perlu dirawat dan ditumbuh kembangkan di alam pikir para pengelola wakaf adalah perlunya inovasi tanpa henti ditengah perkembangan zaman. Para pengelola wakaf dengan bantuan segenap pihak yang bersangkutan, sedianya harus menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi kerakyatan. Pengembangan dan peningkatan kapasitas para nadzir pun harus dilakukan sehingga mereka akan berubah mainset pengurusan wakaf menjadi profesional.

Aset wakaf sebisa mungkin tidak saja memiliki nilai sosial, tapi juga nilai ekonomis. Tanah wakaf yang terabaikan atau belum termanfaatkan, misalnya bisadimanfaatkan menjadi gedung perkantoran, ruko, swalayan, pabrik, kontrakan, restoran, bank cabang pembantu, pesantren, sekolah ataupun kampus. Wakaf dengan peruntukkan pendirian masjid pun bisa dimodifikasi dengan membangun gedung serbaguna baik dilahan yang sama atau di bagian bawah masjid, yang dapat disewakan untuk acara resepsi pernikahan, ruang pertemuan, ruang rapat, acara seminar sehingga operasional masjid bisa terbantu dengan pemasukan dari ruang/gedung pertemuan tersebut.

Sementara itu, manfaat wakaf yang berupa uang atau jasa dapat dikembangkan dalam bentuk bina sosial yang berisi program pelatihan kerja dan usaha bagi para pengangguran, penanganan anak jalanan atau rehabilitasi bagi pengidap narkoba. Dibidang kesehatan wakaf dipergunakan untuk penyuluhan dan pembangunan fasilitas kesehatan seperti klinik, rumah sakit bahkan MCK yang layak bisa menjadi bentuk wakaf produktif yang bermanfaat untuk ummat.

Wakaf juga dapat membina masyarakat menjadi mandiri secara ekonomi. Karenanya, alangkah baiknya jika manfaat wakaf dapat disalurkan menjadi modal bergulir bagi pengusaha kecil yang harus juga diikuti dengan program pelatihan dan pembinaan bagi pengembangan kapasitas pengusaha kecil.

Keberadaan wakaf produktif berkorelasi positif terhadap penguatan civil society (masyarakat madani) karena praktik wakaf menopang perekonomian masyarakat. Bila wakaf produktif berhasil menstabilkan perekonomian rakyat, hal ini akan mendukung penguatan kesejahteraan masyarakat dan secara langsung membuat perubahan pada kehidupan masyarakat menuju arah yang lebih baik.  (Badan Wakaf Indonesia,2016)


 





Ayo share artikel ini melalui sosial media kamu dengan klik salah satu tombol di sebelah kanan layar. Terimakasih & Semangat Berwakaf Amazing People!

Komentar

Silakan Masukan Komentar ...

Artikel Terkait


Perpustakaan Masjid Nabawi

Berita Wakaf

Amazing Wakaf Indonesia Distribusi Daging Qurban Tanpa Kerumunan Massa

Realisasi Program Amazing Qurban

Wakaf : Membeli Akhirat Dengan Harga Dunia

Seputar Wakaf
Donasi