Qurban Bentuk Nyata Empati

Qurban Bentuk Nyata Empati


Sebentar lagi umat Muslim seluruh dunia pun akan melaksanakan ibadah qurban. Hari raya qurban ini dilakukan di bulan Dzulhijjah, atau yang disebut juga dengan Hari Raya Idul Adha. Waktu pelaksanaan ibadah qurban adalah setelah matahari terbit pada Hari Raya Idul Adha. Yaitu, setelah selesainya sholat sunnah pada 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam pada hari terakhir Tasyrik, tanggal 13 Dzulhijjah.

Bagi umat Islam, qurban adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah Swt. bahkan sejak Nabi Adam As. sudah ada syariat qurban. Hal ini dapat diketahui dari kisah Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam As. di mana qurban salah satu dari mereka tidak diterima karena unsur ketidakikhlasan. Demikian juga dengan peristiwa Nabi Ibrahim As. dan putranya yang bernama Ismail As. Keduanya merupakan hamba Allah Swt. yang taat dan pantas untuk diteladani, karena keikhlasan dalam mengabdikan diri mereka kepada Allah Swt melalui ibadah qurban.


 

Pengertian Qurban

Kata qurban (قربان).berasal dari bahasa Arab “Qariba -Yaqrabu –Qurbanan” yang berarti dekat. Maksudnya mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan mengerjakan perintah-Nya. Sedangkan dalam pengertian syariat, qurban ialah menyembelih hewan ternak yang memenuhi syarat tertentu yang dilakukan pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah semata-mata untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.


Dasar Hukum Qurban

Qurban hukumnya sunnah mu’akkad bagi orang Islam yang mampu. Hukum berqurban bisa menjadi wajib jika dalam bentuk qurban karena nazar atau janji. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hukum qurban adalah wajib. Mereka menggunakan dasar hukum dari hadis Rasulullah Saw. sebagai berikut:

Artinya: “Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang memiliki kemampuan, tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami” (HR. Ahmad).

Namun menurut jumhur ulama Syafi’iyyah bahwa hukum qurban adalah sunnah mu’akkad bagi yang mampu dan memenuhi syarat. Dalam pandangan Islam orang yang telah mampu tetapi tidak melaksanakan qurban maka dikategorikan orang yang tercela bahkan sangat dibenci oleh Rasululah Saw. sebagaimana firman Allah Swt.:

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, Sesungguhnya orang- orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3).


Ketentuan Hewan Qurban

Jenis hewan yang boleh digunakan untuk berqurban adalah dari golongan Bahiimatu al-An`aam, yaitu hewan yang diternakkan untuk diperah susunya dan dikonsumsi dagingnya yaitu, unta, sapi, kerbau, domba atau kambing. Seekor kambing atau domba hanya digunakan untuk qurban satu orang, sedangkan seekor unta, sapi atau kerbau bisa digunakan untuk qurban tujuh orang. Sedangkan hewan yang yang paling utama untuk berqurban secara berurutan adalah unta, sapi/kerbau dan kambing/domba.

Ibadah qurban, sebagaimana halnya dengan ibadah-ibadah lainnya, mengandung dua aspek. Pertama, aspek ‘ubudiyah, dimana orang yang melakukan sembelihan qurban itu akan mendapat pahala, yang akan menjadi simpanan untuk kebahagiaan dan kenikmatan rohaniah di hari akhirat kelak. Kedua, mengandung nilai-nilai ijtima’iyah, kemasyarakatan, karena dengan sembelihan hewan qurban itu yang harus dibagi-bagikan sebagian dagingnya kepada kaum fakir miskin dan anak yatim, maka kita telah dapat melaksanakan amaliah sosial, menyantuni orang-orang yang melarat.

Qurban mengajarkan kita bersyukur, berterima kasih kepada Allah atas limpahan rezeki yang sudah kita rasakan sehingga bisa mengajarkan kasih sayang, sekaligus mengembangkan sikap dermawan berbagi daging qurban untuk orang yang kurang mampu.


Daging qurban haruslah terdistribusi terutama kepada warga kurang mampu, anak yatim dan sebagian dinikmati oleh pequrban. Qurban membawa hikmah untuk perbaikan gizi dan kualitas konsumsi masyarakat. Daging qurban tidak boleh diperjual-belikan dengan alasan apapun. Pelaksanaan qurban memberi inspirasi kepada umat Islam bagaimana pentingnya pendataan penduduk, statistik sosial dan pendistribusian yang tepat sasaran dan luas manfaatnya. Pengolahan daging qurban dalam kemasan kaleng merupakan salah satu inovasi umat untuk meluaskan manfaat qurban.


Pemerintah dan lembaga penyedia hewan qurban harus memahami syarat dan kriteria hewan qurban tentang standar konsumsi daging hewani yang halal, sehat dan aman dari wabah penyakit. Untuk itu kedokteran hewan harus maju di negara-negara muslim yang sampai akhir zaman berkepentingan dengan penyediaan hewan qurban yang sehat dan terbebas dari penyakit.

 





Ayo share artikel ini melalui sosial media kamu dengan klik salah satu tombol di sebelah kanan layar. Terimakasih & Semangat Berwakaf Amazing People!

Komentar

Silakan Masukan Komentar ...

Artikel Terkait


Donasi