Selalu Ada Hikmah Dibalik Musibah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG) menyampaikan bahwa bencana hidrometeorologi berupa banjir hingga longsor
yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia disebabkan tingginya curah hujan.
Lebih lanjut BMKG menyampaikan musim hujan di Indonesia secara merata sudah
terjadi sejak bulan November 2020 lalu, namun puncaknya beragam. Ada wilayah
yang puncak musim hujannya pada Desember 2020. Tapi sebagian besar mengalami
puncak di Januari dan berlanjut hingga Februari 2021. Sehingga secara umum,
wilayah Indonesia diprediksi selama Januari-Maret terjadi intensitas curah
hujan mencapai 300-500 mm tiap bulannya. Dan ini setara dengan peningkatan
curah hujan 40-80% dari normalnya. Faktor inilah yang menyebabkan berbagai
bencana melanda Indonesia, seperti banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, Maluku Utara,
Sulawesi Utara, Aceh, Malang, Bogor, hingga Papua. Selain itu, bencana longsor
terjadi di Sumedang, Sulawesi Utara, hingga gempa di Mamuju - Majene, Sulawesi
Barat.
Tidak ada yang salah dengan penjelasan BMKG
diatas, bisa dibenarkan karena semua didukung dengan ilmu pengetahuan,
ditunjang dengan teknologi abad ini dan sumber daya manusia yang memiliki
kapasitas keilmuan mumpuni untuk mengamati fenomena alam yang sedang terjadi.
Dan agama Islam senantiasa selaras dengan ilmu pengetahuan. Namun bagi kita Umat
Islam sebagai hamba Allah, orang yang beriman cara pandangnya harus selalu ada
hikmah dibalik serangkaian musibah yang terjadi dinegeri ini; bahwa kerusakan
yang terjadi didunia terbagi menjadi dua, yakni al-fasadul maddi (kerusakan fisik), dan al-fasadul ma’nawi (non
fisik dan perilaku). Seperti terjadinya bencana dibeberapa wilayah lainnya di
Indonesia, selain terjadi karena faktor iklim global namun juga ada faktor
campur tangan manusia yang seringkali melakukan kerusakan lingkungan.
Eksploitasi, mengambil, dan menggunakan tapi tidak memikirkan dan menjaga adalah
contoh dari nidhamul kauniyah
(aturan alam yang jika dilanggar maka akan menimbulkan kerusakan).
Pada saat bangsa Indonesia berjuang dalam
melawan pandemi Covid-19, bencana alam juga menyusul terjadi bencana di
beberapa wilayah. Kondisi ini harus menjadikan Umat islam Indonesia selain
menjaga kelestarian lingkungan juga perlu untuk bermuhasabah (introspeksi diri) berkaca diri dan iktiraf atau membuat
pengakuan kepada Allah Subhanahu
Wata’ala bahwa kita masih berlumuran dosa, serta berdzikir, berdoa
dan beristighatsah (memohon
pertolongan kepada Allah Subhanahu
Wata’ala) karena bisa jadi kejadian bencana ini mungkin juga adzab
karena Umat telah berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Karena setiap apa yang terjadi di dunia adalah
akibat ulah manusia. Kita tidak perlu saling menyalahkan atau hanya menggerutu
tetapi sebaiknya kita mencari solusi-solusi yang bisa kita berikan dalam rangka
menyelamatkan situasi. Karena Islam adalah Ar-Risalah
Al-Ilahiyyah, agama dengan tuntutan untuk melakukan perbaikan yang
menyangkut seluruh lini kehidupan.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan
berdoa, karena doa sebagai senjata orang Muslim dalam menghadapi segala hal,
kita mengetuk pintu langit karena musibah, adzab atau fenomena alam itu
semuanya berada dalam kekuasaan Allah. Kita bertaubat serta memohon kepada
Allah agar diberikan keselamatan, diberikan kekuatan, bertambah keimananan dan
ketakwaan kita semua dalam menghadapi ujian ini serta musibah yang terjadi
segera diangkat oleh Allah Subhanahu
Wata’ala dari bumi Indonesia dan berdoa agar negeri ini dijauhkan
dari segala bala bencana, Allah turunkan keberkahan-Nya kepada umat Islam
Indonesia pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Sehingga Indonesia
menjadi baldatun thoyyibatun
wa robbun ghofuur.
Komentar